Kamis, 29 Desember 2011

Anak Usia Sekolah



A.    Latar Belakang
Anak usia sekolah merupakan kelompok umur yang masih rawan terhadap masalah kesehatan dimana keadaan kesehatan anak sekolah sangat berpengaruh terhadap prestasi belajar yang akan dicapai oleh peserta didik. Pada sisi lain anak sekolah juga sangat peka untuk ditanamkan pengertian, perilaku dan kebiasaan hidup sehat sehingga anak sekolah sangat efektif untuk dilakukan perubahan terhadap perilaku dan kebiasaan hidup sehatnya (Depkes RI, 2002).
Melalui kegiatan pembinaan UKS oleh petugas kesehatan dan peran serta dari lingkungan sekolah (guru dan siswa), diharapkan perilaku dan kebiasaan hidup sehat di lingkungan sekolah dapat dicapai. Upaya-upaya pembinaan dapat diwujudkan dalam bentuk pelayanan promotif dan preventif yang berupa pendidikan kesehatan dan pelatihan kesehatan. Sebagai sasaran dalam pelayanan kegiatan UKS adalah mereka yang hidup di lingkungan sekolah yaitu guru, peserta didik dan lingkungan sekolah (Depkes RI, 2002).
Puskesmas merupakan pangkalan kegiatan usaha kesehatan sekolah. Tugas puskesmas bertanggung jawab atas pelaksanaan program kesehatan sekolah. Program kesehatan sekolah dilaksanakan disekolah- sekolah oleh petugas puskesmas bekerja sama dengan sekolah atau guru-guru, serta pemerintahan setempat. Prioritas harus di berikan kepada pelaksanaan program kesehatan sekolah di sekolah-sekolah dasar maupun menengah (Depkes RI, 2002).
Pembinaan dan pengembangan Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) adalah upaya pendidikan dan kesehatan yang dilaksanakan secara terpadu, sadar, berencana, terarah dan bertanggung jawab dalam menanamkan, menumbuhkan, dan mengembangkan serta membimbing untuk menghayati, menyenangi dan melaksanakan prinsip hidup sehat dalam kehidupan peserta didik sehari-hari,untuk mencetak sumber daya manusia yang berkualitas (Depkes RI, 2002).
Pembinaan dan pengembangan Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) adalah  salah satu upaya pemeliharaan dan peningkatan kesehatan yang ditujukan kepada peserta didik (usia sekolah) yaitu merupakan salah satu mata rantai yang penting dalam kualitas fisik penduduk. Peserta didik merupakan kelompok masyarakat yang mempunyai tingkat kesehatan yang lebih baik bila dibandingkan dengan berbagai kelompok masyarakat lainnya, meskipun demikian kelompok ini merupakan kelompok yang rawan karena berada dalam periode pertumbuhan dan perkembangan (Depkes RI, 2002).
Dari hasil pengkajian  dengan menggunakan metode wawancara dan penyebaran angket yang dilaksanakan pada tanggal 8-12 Pebruari 2010  oleh siswa dan guru yang berada di SDN Ngadirgo 01 kecamatan Mijen kota Semarang yang mempunyai 14 guru dan 219 siswa.  Dari hasil penyebaran angket oleh guru yang ada di SDN Ngadirgo 01 didapatkan data bahwa 35,7% responden menyatakan bahwa UKS di SDN Ngadirgo 01 belum berfungsi sebagaimana mestinya, sebanyak 25 % siswa mengalami diare, 10,6 % siswa tidak mencuci tangan sebelum makan/jajan dan setelah buang air besar, sebanyak 54,7 % siswa mengatakan mempunyai gigi berlubang, 89,8 % siswa sering mengkonsumsi jajan ( coklat, es, chiki ). Dan dari data wawancara dengan kepala sekolah  didapatkan ruang UKS yang masih bergabung dengan mushola, dari hasil observasi di SDN Ngadirgo 01 didapatkan sebagian siswa ada yang kurang menjaga lingkungan sekitar sekolah misalnya membuang sampah tidak pada tempatnya (Data survey SDN Ngadirgo 01 Kecamatan Mijen).

B.     Tujuan
1.      Tujuan Umum
Membina dan meningkatkan kesehatah anak-anak sekolah sehingga dapat tumbuh kembang sebaik-baiknya melalui asuhan keperawatan UKS di SDN Ngadirgo 01 wilayah kerja Puskesmas Mijen kecamatan Mijen kota Semarang.
2.      Tujuan Khusus
a.       Memahami tentang program UKS.
b.      Mendiskripsikan pengkajian asuhan keperawatan UKS di SDN Ngadirgo 01 wilayah kerja Puskesmas Mijen kecamatan Mijen kota Semarang
c.       Mendiskripsikan perencanaan asuhan keperawatan UKS di SDN Ngadirgo 01 wilayah kerja Puskesmas Mijen kecamatan Mijen kota Semarang
d.      Mendiskripsikan pelaksanaan asuhan keperawatan UKS di SDN Ngadirgo 01  Wilayah kerja Puskesmas Mijen kecamatan Mijen kota Semarang
e.       Mendiskripsikan evaluasi asuhan keperawatan UKS di SDN Ngadirgo 01 wilayah kerja Puskesmas Mijen kecamatan Mijen kota Semarang
BAB II
TINJAUAN TEORI

A.  Usaha Kesehatan Sekolah
Usaha Kesehatan Sekolah (UKS)  menurut WHO (2000) adalah bentuk pelayanan kesehatan di suatu institusi yang dapat diterapkan disemua Negara yang berfungsi untuk meningkatkan derajat kesehatan komponen sekolah, pelayanan yang diberikan berupa  promosi kesehatan serta pendidikan kesehatan sehingga bisa diterapkan pada semua level baik  lokal, regional, nasional maupun global (McMurray, 2003). UKS adalah salah satu contoh penyelenggara pelayanan kesehatan di komunitas yang pelayanannya meliputi pendidikan kesehatan, pencegahan penyakit, peningkatan kesehatan serta pendidikan seks (Mubarok, 2006). Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) adalah upaya terpadu lintas program dan lintas sektoral dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan yang optimal serta membentuk perilaku hidup sehat anak usia sekolah yang ada disekolah (Depkes RI, 2002).
UKS adalah praktek keperawatan profesional yang dilakukan di suatu institusi akademik khususnya sekolah, dimana pelayanan yang diberikan meliputi promosi kesehatan dan keselamatan, melakukan penerapan managemen kasus, melakukan advokasi serta melakukan intervensi kesehatan baik kasus-kasus aktual maupun potensial ( McEwen, 2001).
       Kegiatan UKS merupakan salah satu bentuk pelayanan puskesmas di luar gedung.  Kegiatan ini dapat dijadikan wadah atau kendaraan yang dapat digunakan oleh semua program kesehatan, seperti kesehatan ibu dan anak, gizi, P2M, kesehatan lingkungan, pengobatan, promosi kesehatan dan lain-lain. Pelaksanan program kesehatan di sekolah dapat memberikan daya ungkit yang nyata karena selain jumlahnya yang besar, mereka juga merupakan sasaran yang sudah terorganisir dengan baik dan sangat mudah menerima informasi dalam rangka pembentukan perilaku hidup sehat dan bersih (Anderson & Mcfarlane, 2007).

B.  Ruang Lingkup Kegiatan
      Menurut Stanhope (1998), Kegiatan utama UKS disebut Trias UKS, yang terdiri dari :
  1. Pelayanan kesehatan
Pelayanan kesehatan sekolah meliputi screening kesehatan, perawatan dasar tentang komplikasi ringan, pemberian obat-obatan, survailance status imunisasi, penemuan kasus untuk mengidentifikasi tentang masalah, pengelolaan kasus, konseling kesehatan, pelayanan perawatan pada siswa yang memerlukan kesehatan secara khusus dan pelayanan di beberapa distrik, dan perawatan kesehatan utama.
Kegiatan pelayanan kesehatan di sekolah meliputi :
a.       Screening  
Tanggung jawab perawat sekolah dalam proses screening adalah bekerja sama dengan keluarga dan anggota tim lainnya dalam hal : menentukan screening apa yang akan dikerjakan, mengembangkan sebuah rencana untuk screening dan system pengelolaan data, mengerjakan pada professional dan tenaga lainnya (termasuk siswa dan tenaga sukarela). Pelaksanaan screening ditentukan dengan menentukan factor-faktor yang mendekati sumber yang menunujukkan diagnosa yang berdasarkan pada gejala dan tanda, merujuk siswa yang membutuhkan evaluasi selanjutnya di sekolah atau di masyarakat dan kolaborasi dengan tim lain dalam pelaksanaan pada evaluasi rencana pengobatan
Screening pencegahan terhadap kesehatan mata, telinga, scoliosis, gigi, analisa factor resiko kardiovaskuler dan survey lainnya yang lebih komplek tentang pengetahuan kebiasaan kesehatan orang sebagai perilaku beresiko dalam survey screening yang biasa terjadi bersamaan dengan di mulainya tahun ajaran baru, sehingga memungkinkan untuk membuka masalah.


b.      Pengelolaan keluhan-keluhan ringan.
Setiap  bangunan sekolah sebaiknya memiliki paralatan dan P3K dengan petunjuknya yang jelas. Sebuah ruangan yang dibangun khusus untuk tempat memberikan peleyanan pertolongan pertama dan perawatan emergenci harus ada, demikian juga ruangan tempat perawatan keluhan-keluhan ringan seperti nyeri perut, sakit kepela, nyeri telinga, lemah.
c.       Pemberian obat-obatan.
Dalam hal ini perawat sekolah memerlukan dukungan guna keberhasilan pendekatan tersebut baik dari siswa maupun dari seluruh personil sekolah dengan memperhatikan 5 prasyarat yang mendasar antara lain
1)          Obat-obatan hanya diberikan kepada anak yang orang tuanya telah diberikan resep
2)          Setiap obat-obatan memerlukan resep yang diberikan hanya melalui wewenang dokter
3)          Resep obat tersebut sebaiknya bersifat individual dan jelas labelnya untuk setiap anak/siswa
4)          Obat-obatan harus dicatat oleh orang yang memberikan (di sekolah) kemudian dalam buku catatan harus jelas status siswa, nama, jenis obat, dosis, waktu dan orang yang memberikan obat tersebut.
5)         Obat harus didapatkan dari toko yang jelas, keadaan obat tertutup rapat, tempat bersih dan terbungkus.
d.      Konseling
Konseling adalah membantu orang sampai pada penemuan keputusan untuk permasalahannya atau konflik.  Tanggung jawab konselor adalah memberikan informasi, memberikan dukungan, merawat dan dapat dipercaya.  Konselor tidak memberikan keputusan tetapi hanya membantu klien untuk menemukan suatu keputusan yang terbaik bagi dirinya.
Menurut Stanhope (2004), pemberian konseling pada anak usia sekolah 7-12 tahun antara lain :
1)      Penyebab kematian
a)      Kecelakaan kendaraan bermotor
b)      Luka-luka yang disebabkan bukan karena kendaraan bermotor
c)      Kelainan bawaan
d)     Leukemia
e)      Pembunuhan
f)       Penyakit jantung
2)      Penyaringan yang disarankan
a)      Tinggi dan berat badan
b)      Tekanan darah
3)      Konseling tentang diit dan olah raga
a)      Lemak khususnya lemak jenuh, gula dan makanan kecil, sodium.
b)      Keseimbangan kalori.
c)      Pemilihan program latihan
4)      Pencegahan luka
a)      Sabuk pengaman
b)      Alat pendeteksi asap
c)      Menyimpan senjata, obat-obatan, bahan kimia beracun, korek api
d)     Bersepeda menggunakan helm pengaman.
5)      Kesehatan gigi
a)      Menggosok gigi dan memeriksa secara teratur

Sedangkan menurut McFarlane & Anderson (2007) pelayanan kesehatan sekolah meliputi :
1)      Pemeriksaan kesehatan fisik
2)      Pemeriksaan perkembangan kecerdasan
3)      Pemberian imunisasi
4)      Penemuan kasus-kasus dini
5)      Pengobatan sederhana
6)      Pertolongan pertama
7)      Rujukan bila diperlukan untuk kasus yang tidak dapat ditanggulangi di sekolah
8)      Pemeriksaan dan pemeliharaan kesehatan guru.

  1. Pendidikan kesehatan
Komponen pendidikan kesehatan harus memasukkan usaha-usaha yang bersifat pengajaran yang membantu perkembangan dengan baik. Pendidikan kesehatan termasuk juga pendidikan untuk para siswa yang memiliki masalah kesehatan kronik dan mereka harus mengetahui lebih banyak mengenai penyakitnya, perawatan diri sendiri, dan bagaimana menggunakan sistem pelayanan kesehatan secara efektif
Menurut Stanhope (2004) tiga tujuan umum dari pendidikan kesehatan dalam komponen kesehatan sekolah  adalah:
a.          Mengajarkan semua anak-anak mengenai tubuhnya masing-masing dan bagaimana menjaga tubuh agar tetap sehat
b.         Menanamkan prinsip pada anak laki-laki dan perempuan, tentang kebiasaan hidup sehat dan menanamkan pengetahuan dalam mengambil keputusan yang bertanggung jawab mengenai kesehatan mereka sendiri, kesehatan keluarga mereka ketika mereka dewasa dan kesehatan masyarakat
c.          Mengajarkan kepada siswa bagaimana menggunakan sistim pelayanan kesehatan dengan bijaksana dan efektif.
Dewasa ini ada sejumlah pendidikan kesehatan yang termasuk dalam kurikulum. Lima buah programnya sudah dikenal dengan baik. Adapun kurikilum ”The Growing Healthty” Pertumbuhan kesehatan untuk tingkat  hidup pribadi para siswa.
Sedangkan menurut Anderson & McFarlane (2007) pelaksanan kesehatan sekolah meliputi :
    1. Pendidikan kesehatan di sekolah
1)      Kegiatan intra kulikuler
Pedidikan kesehatan yang masuk ke dalam kurikulum, meliputi ilmu kesehatan atau disiplin ilmu seperti : olah raga dan kesehatan, dan ilmu pengetahuan alam.
2)      Kegiatan Ekstra Kulikuler
Yaitu pendidikan kesehatan yang dimasukkan ke dalam kegiatan-kegiatan ekstra kulikuler dalam rangka menanamkan perilaku sehat pada peserta didik.
    1. Kegiatan-kegiatan dalam pendidikan kesehatan di sekolah dapat berupa :
1)      Pendkes hygiene perseorangan meliputi pemeliharaan gigi dam mulut, kebersihan kulit dan kuku, mata, telinga dan sebagainya.
2)      Pemberian pendkes pencegahan dan pemberantasan penyakit menular melalui penanaman perilaku hidup bersih sehat di sekolah dan di rumah.

  1. Kesehatan lingkungan
Komponen ketiga dari program kesehatan sekolah adalah kesehatan lingkungan, yang meliputi aspek fisik dan psikis diantaranya pengawasan terhadap alat dan keselamatan lingkungan fisik dan psikososial para siswa. Lingkungan jasmani juga harus dievaluasi. Kader UKS sekolah harus belajar secara teliti, bersama dengan pembina UKS untuk menjamin bahwa daerah kesehatan sekolah tidak dilupakan. Program-program keselamatan adalah yang paling penting. Seringkali perawat dilibatkan secara aktif dalam memperkenalkan daerah-daerah yang sering terjadi kecelakaan pada siswa, bahkan perawat juga dilibatkan dalam strategi perencanaan intervensi guna mengurangi resiko tersebut.

Sedangkan menurut Anderson & McFarlane (2007), kesehatan lingkungan sekolah mencakup :
a.       Lingkungan fisik, kegiatannya meliputi :
1)      Pengawasan terhadap sumber air bersih, sampah air limbah, tempat pembuangan tinja dan kebersihan lingkungan sekolah.
2)      Pengawasan kantin sekolah
3)      Pengawasan bangunan sekolah yang sehat
4)      Pengawasan binatang yang ada di lingkungan sekolah
5)      Pengawasan terhadap lingkungan tanah, air dan udara di sekitar sekolah
b.      Lingkungan Psikis, kegiatannya meliputi :
1)      Memberikan perhatian pada perkembangan peserta didik
2)      Memberikan perhatian khusus pada anak didik yang bermasalah
3)      Membina hubungan kejiwaan antara guru dan peserta didik
c.       Lingkungan social, kegiatannya meliputi :
1)      Membina hubungan yang harmonis antar guru
2)      Membina hubungan yang harmonis antara guru dengan peserta didik
3)      Menbina hubungan yang harmonis antar peserta didik
4)      Membina hubungan yang harmonis antara guru, murid dan karyawan sekolah serta masyarakat sekolah



C.  Tujuan Usaha Kesehatan Sekolah
Menurut UU RI No. 23 tahun 1992 tentang Kesehatan BAB V bagian ke 13 Pasal 45 ayat 1, kesehatan sekolah diselenggarakan untuk meningkatkan kemampuan hidup sehat peserta didik dalam lingkungan hidup sehat sehingga peserta didik dapat belajar, tumbuh dan berkembang secara harmonis dan optimal menjadi sumber daya yang lebih berkualitas (Depkes RI, 2002).
D.  Sasaran
Sasaran pelayanan UKS menurut Mubarok (2009) adalah seluruh peserta didik dari tingkat pendidikan :
1.      Pendidikan dasar
2.      Pendidikan menengah
3.      Pendidikan agama
4.      Pendidikan kejuruan
5.      Pendidikan khusus (di luar sekolah)
Sasaran pembinaan UKS adalah:
1.      Peserta didik
2.      Pembina UKS (teknis dan non teknis)
3.      Sarana dan prasarana pendidikan kesehatan dan pelayanan kesehatan
4.      Lingkungan sekolah

E.  Kegiatan
      Menurut Anderson & McFarlane (2007) kegiatan UKS meliputi :
1.      Pendidikan kesehatan di sekolah
Pendidikan kesehatan di sekolah meliputi :
a.       Kegiatan intra kurikuler
Pendidikan kesehatan yang masuk ke dalam kurikulum, meliputi ilmu kesehatan atau disiplin ilmu seperti : oleh raga dan kesehatan, dan ilmu pengetahuan alam.

b.      Kegiatan ekstra kurikuler
Yaitu pendidikan kesehatan yang dimasukkan ke dalam kegiatan-kegiatan ekstra kurikuler dalam rangka menanamkan perilaku sehat pada peserta didik.
Kegiatan-kegiatan dalam pendidikan kesehatan di sekolah dapat berupa :
1)   Hygiene perseorangan meliputi pemeliharaan gigi dan mulut, kebersihan kulit dan kuku, mata, telinga dan sebagainya.
2)   Lomba poster sehat
3)   Perlombaan kebersihan kelas.
Sedangkan menurut Stanhope (2004) tiga tujuan umum dari pendidikan kesehatan dalam komponen kesehatan sekolah  adalah:
a.       Mengajarkan semua anak-anak mengenai tubuhnya masing-masing dan bagaimana menjaga tubuh agar tetap sehat
b.      Menanamkan prinsip pada anak laki-laki dan perempuan, tentang kebiasaan hidup sehat dan menanamkan pengetahuan dalam mengambil keputusan yang bertanggung jawab mengenai kesehatan mereka sendiri, kesehatan keluarga mereka ketika mereka dewasa dan kesehatan masyarakat
c.       Mengajarkan kepada siswa bagaimana menggunakan sistim pelayanan kesehatan dengan bijaksana dan efektif.
2.      Pemeliharaan kesehatan sekolah
Kegiatan ini dimaksudkan untuk memelihara, meningkatkan dan menemukan secara dini gangguan kesehatan yang mungkin terjadi terhadap peserta didik maupun gurunya. Pemeliharaan kesehatan sekolah dilakukan oleh petugas puskesmas yang merupakan tim yang dibentuk di bawah koordinator UKS yang terdiri dari, dokter, perawat, juru imunisasi dan sebagainya.


Kegiatan yang dilakukan adalah :
1)        Pemeriksaan kesehatan fisik
2)        Pemeriksaan perkembangan kecerdasan
3)        Pemberian imunisasi
4)        Penemuan kasus-kasus dini
5)        Pengobatan sederhana
6)        Pertolongan pertama
7)        Rujukan bila diperlukan untuk kasus yang tidak dapat ditanggulangi di sekolah
8)        Pemeriksaan dan pemeliharaan kesehatan guru.

      3.   Pemeliharaan Lingkungan Sekolah    
Lingkungan kehidupan sekolah yang sehat mencakup :
a.       Lingkungan fisik, kegiatannya meliputi :
1)      Pengawasan terhadap sumber air bersih, sampah air limbah, tempat pembuangan tinja dan kebersihan lingkungan sekolah.
2)      Pengawasan kantin sekolah.
3)      Pengawasan bangunan sekolah yang sehat.
4)      Pengawasan binatang yang ada di lingkungan sekolah.
5)      Pengawasan terhadap pencemaran lingkungan tanah, air dan udara di sekitar sekolah.
b.      Lingkungan psikis, kegiatannya meliputi :
1)      Memberikan perhatian pada perkembangan peserta didik.
2)      Memberikan perhatian khusus pada anak didik yang bermasalah.
3)      Membina hubungan kejiwaan antara guru dan peserta didik.
c.       Lingkungan sosial, kegiatannya meliputi :
1)      Membina hubungan yang harmonis antara guru dengan guru.
2)      Membina hubungan yang harmonis antara guru dengan peserta didik.
3)      Membina hubungan yang harmonis antara peserta didik dengan peserta didik lainnya.
4)      Membina hubungan yang harmonis antara guru, murid dan karyawan sekolah serta masyarakat sekolah.
Pelayanan kesehatan sekolah
1)      Pendidikan kesehatan, meliputi :
a)        Pendidikan seksual
b)        Pemeriksaan kesehatan gigi
c)        Pemeriksaan fisik
d)       Pencegahan cidera
e)        Mengidentifikasi Penggunaan Zat-zat adiktif
2)      Pelayanan kesehatan, meliputi :
a)       Imunisasi
b)       Deteksi dini masalah- masalah kesehatan
c)       Pelayanan kedaruratan
d)      Perawatan untuk siswa yang sakit

F.       Peran Perawat Dalam Kegiatan Usaha Kesehatan Sekolah
Peran perawat dalam kegiatan UKS menurut Ervin (2002) antara lain :
1.       Sebagai pelaksana
a.         Mengkaji masalah kesehatan dan keperawatan peserta didik dengan melakukan pengumpulan data, analisa data, perumusan masalah dan prioritas masalah.
b.         Menyusun rencana kegiatan UKS bersama Pembina UKS di sekolah.
c.         Melaksanakan kegiatan UKS sesuai perencanaan
d.        Penilaian dan pemantauan kegiatan UKS
e.         Pencatatan dan pelaporan sesuai dengan rencana kegiatan yang disusun
2.       Sebagai pengelola
Perawat yang ditunjuk oleh pihak puskesmas, bertanggung jawab sebagai coordinator dalam mengelola kegiatan UKS.
3.       Sebagai Penyuluh
Perawat bertugas memberikan penyuluhan kepada peserta didik yang bersifat umum dan klasikal, atau secara tidak langsung pada saat melaksanakan pemeriksaan fisik peserta didik secara perorangan.

G.  Asuhan keperawatan Sekolah
1. Pengkajian
Area pengkajian UKS menurut Mary, (2003) meliputi biofisikal, psikologis, lingkungan fisik, sosiokultural, perilaku kesehatan dan dimensi sistem kesehatan.
a.       Dimensi Biofisikal
Faktor-faktor yang perlu dikaji adalah kematangan dan usia, warisan genetik dan fungsi fisiologis
b.      Dimensi Psikologis
Lingkungan psikis dalam sekolah dapat memelihara kesehatan yang baik atau sebaliknya. Sudut pandang ini dapat dikaji melalui komponen :
1)      Pengorganisasian kegiatan keseharian sekaolah meliputi periode aktifitas fisik, waktu dan pengembangan kemampuan, waktu makan, minum, maupun toileting.
2)      Keindahan (Aesthetic)
Dapat dilihat dari kebersihan ruangan, suasana kondusif atau bahkan tertekan, gelap terang ruangan.
3)      Hubungan kekeluargaan
Meliputi beberapa besar partisipasi siswa dalam aktivitas kelompok, kepedulian dan hubungan dengan orang lain.
4)      Hubungan guru dengan murid
Hubungan yang baik sangat mempengaruhi kondisi psikis di sekolah. Dalam hal ini perawat komunitas mengidentifikasi sikap guru terhadap murid serta penggunaan hukuman terhadap siswa yang salah dengan layak / mendidik.

5)      Hubungan guru dengan guru
Hubungan antar guru yang efekti berupa saling sharing, mendukung, kerjasama, dan memberi pedoman terhadap perkembangan guru.
6)      Disiplin
Perawat dapat mengkaji, bagaimana suatu peraturan dapat dikomunikasikan secara jelas dan nyata pada siswa.
7)      Kebijakan peraturan
Dapat dikaji bagaimana standar peraturan dilaksanakan secara konsisten.
8)      Hubungan orang tua dengan sekolah
Hubungan antar orang tua yang efektif berupa saling sharing, mendukung, kerjasama dan memberi pedoman terhadap perkembangan kemajuan prestasi anak
9)      Hubungan masyarakat sekitar dengan sekolah
Hubungan antara masyarakat dengan sekolah berupa menjaga keamanan dan kenyamanan berlangsungnya proses pembelajaran
c.       Dimensi Fisik
1)      Lingkungan Internal
a)      Bahaya api
b)      Sanitasi
c)      Zat berbahaya
d)     Peralatan laboratorium
e)      Peralatan dapur
f)       Bahan-bahan kimia
g)      Binatang pengerat
h)      Suara, cahaya, ventilasi
2)      Lingkungan Eksternal
a)      Lalu lintas
b)      Air berbahaya
c)      Pestisida
d)     Binatang berbahaya
e)      Bahaya industri
f)       Polusi
d.      Dimensi Sosial
Dapat dikaji melalui sikap masyarakat terhadap pendidikan dan perawatan, faktor sosial orang tua dan sosial ekonomi keluarga.
e.       Dimensi Perilaku
Meliputi kekakuan peraturan sekolah, perilaku nutrisi (makan pagi / ssiang), rekreasi dan istirahat.
f.       Dimensi Sistem Kesehatan
Dipengaruhi oleh idividu dan masyarakat
Individu                      :  perawatan kesehatan individu dan keluarga
Masyarakat                  :  pelayanan untuk perawatan kesehatan yang diperlukan populasi sekolah.
Pengumpulan data dimaksudkan untuk memperoleh informasi mengenai masalah kesehatan pada anak sekolah sehingga dapat ditentukan tindakan yang harus diambil untuk mengatasi masalah tersebut yang menyangkut aspek fisik, psikologis, sosial ekonomi dan spiritual serta faktor lingkungan yang mempengaruhi (Mary, 2003).
Menurut Mary (2003) pengumpulan data dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut :
1.      Wawancara atau anamnesa
Wawancara adalah kegiatan komunikasi timbal balik yang berbentuk tanya jawab antara perawat dengan pasien atau anak sekolah tentang hal yang berkaitan dengan masalah kesehatan anak sekolah. Wawancara harus dilakukan dengan ramah, terbuka, menggunakan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami oleh anak sekolah dan selanjutnya hasil wawancara atau anamnesa dicatat dalam format proses keperawatan.
2.      Pengamatan
Pengamatan dalam keperawatan usaha kesehatan sekolah dilakukan meliputi aspek fisik, psikologis, perilaku dan sikap dalam rangka menegakkan diagnosa keperawatan. Pengamatan dilakukan dengan menggunakan panca indera dan hasilnya dicatat dalam format proses keperawatan.
3.      Pemeriksaan fisik
Dalam keperawatan usaha kesehatan sekolah dimana salah satunya asuhan keperawatan yang diberikan adalah asuhan keperawatan UKS, maka pemeriksaan fisik yang dilakukan dalam upaya membantu menegakkan diagnosa keperawatan dengan cara Inspeksi, Perkusi, Auskultasi dan Palpasi.
Menurut Mary, (2003) pemeriksaan fisik UKS meliputi :
1)      Sistem  kardiovaskuler
2)      Sistem saraf pusat
3)      Sistem endokrin
4)      Sistem pencernaan
5)      Sistem alat reproduksi
6)      Sistem hematologi
7)      Sistem imunologi
8)      Sistem integumen
9)      Sistem muskuloskletal
10)  Sistem pernafasan
11)  Deteksi penyakit / keluhan

2.      Diagnosa keperawatan kesehatan sekolah
Diagnosa keperawatan UKS dibagi dua kategori antara lain yang berhubungan dengan individu siswa dan yang berhubungan dengan populasi sekolah. Misalnya diagnosa yang berhubungan dengan individu siswa antara lain ketidakmampuan mengikuti kegiatan fisik berhubungan dengan penyakit yang diderita misalnya asma dan kebutuhan akan perlindungan anak berhubungan dengan kekerasan pada anak, diagnosa yang berhubungan dengan populasi sekolah yaitu resiko cidera pada anak sekolah yang berhubungan dengan kondisi lingkungan sekolah dan kebutuhan pendidikan tentang penyalahgunaan obat adiktif berhubungan dengan pengaruh dari lingkungan masyarakat (Mary, 2003).

3.      Perencanaan
Perencanaan keperawatan adalah penyusunan rencana tindakan keperawatan yang akan dilaksanakan untuk mengatasi masalah sesui dengan diagnosis keperawatan yang telah ditentukan dengan tujuan terpenuhinya kebutuhan pasien dalam kegiatan UKS dirumuskan perencanaan berdasarkan level tindakan (Stanhope, 1998).
Level tindakan keperawatan menurut Stanhope, (1998) antara lain :
a.       Pencegahan primer di sekolah
1)      Pemeliharaan kesehatan yang bersifat umum maupun yang khusus untuk penyakit-penyakit tertentu, antara lain demam berdarah, cacingan, muntaber
2)      Penjaringan (screning) kesehatan bagi anak yang baru masuk sekolah
3)      Mengikuti (memonitor / memantau) pertumbuhan peserta didik
4)      Imunisasi peserta didik kelas I dan kelas VI di sekolah dasar dan madrasah ibtidaiyah
5)      Usaha pencegahan penularan penyakit dengan jalan memberantas sumber infeksi dan pengawasan kebersihan lingkungan sekolah / madrasah dan perguruan agama
6)      Konseling kesehatan remaja di sekolah / madrasah dan perguruan agama oleh guru agama dan puskesmas oleh dokter puskesmas 
b.      Pencegahan sekunder disekolah
1)      Diagnosa dini
2)      Pengobatan ringan
3)      Pertolongan pertama pada kecelakaan dan pertolongan pertama pada penyakit
4)      Rujukan medic

c.       Pencegahan tersier disekolah
1)      Perawatan anak dengan penyakit kronik
2)      Keperawatan yang berkelanjutan

4.      Pelaksanaan
Menurut Mary, (2003) implementasi perawatan kesehatan untuk individu atau kelompok sekolah menggambungkan antara perawat UKS dan tim kesehatan lain. Pada level individu sebagai contoh perawat kesehatan komunitas boleh menghubungi dokter spesialis anak dengan penyakit kronis untuk mencari informasi tentang effek pengobatan dan cara pengobatan lebih lanjut tergantung dari kondisi anak. Perawat juga membutuhkan dukungan dari orang tua murid dalam memberikan pelayanan kesehatan, melalui pemeriksaan, penyuluhan atau memberikan pelayanan kesehatan untuk anak mereka. Implementasi untuk kelompok sekolah yaitu kolaborasi antara petugas kesehatan dan tim lainnya. Sebagai contoh, perawat boleh menghubungi polisi untuk berperan dalam pendidikan tentang penyalahgunaan obat terlarang disekolah, perawat bekerjasama dengan guru, ahli gizi untuk program pemberian nutrisi pada semua anak sekolah.
Menurut Mary (2003) prinsip yang umum digunakan dalam pelaksanaan atau implementasi pada keperawatan UKS adalah :
a.    Inovative
Perawat kesehatan sekolah harus mempunyai wawasan luas dan mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan tehnologi dan berdasar pada iman dan taqwa.
b.    Integrated
Perawat kesehatan sekolah harus mampu bekerjasama dengan sesama profesi, tim kesehatan lain, individu, keluarga, kelompok dan masyarakat berdasarkan azas kemitraan.


c.    Rasional
Perawat kesehatan sekolah dalam melakukan asuhan keperawatan harus menggunakan pengetahuan secara rasional demi tercapainya rencana program yang telah disusun.
d.   Mampu dan mandiri
Perawat kesehatan sekolah diharapkan mempunyai kemampuan dan kemandirian dalam melaksanakan asuhan keperawatan serta kompeten.
e.    Kepercayaan
Perawat kesehatan masyarakat harus yakin dan percaya atas kemampuannya dan bertindak dengan sikap optimis bahwa asuhan keperawatan yang diberikan akan tercapai. Dalam melaksanakan implementasi yang menjadi fokus adalah program kesehatan sekolah dengan strategi : komuniti organisasi dan partnership in community (model for nursing partnership).

5.      Evaluasi
Menurut Mary, (2003) evaluasi perawat di sekolah berfokus pada hasil dari perawatan. Perawat menilai evaluasi dari dua level, individu atau total program kesehatan sekolah yang memuat keberhasilan proses dan keberhasilan tindakan keperawatan. Keberhasilan proses dapat dilihat dengan membandingkan antara proses dengan pedoman atau rencana proses tersebut. Sedangkan keberhasilan tindakan dapat dilihat dengan membandingkan antara tingkat kemandirian anak sekolah dalam perilaku kehidupan sehari-hari dan tingkat kemajuan kesehatan anak sekolah komunitas dengan tujuan yang telah ditetapkan atau dirumuskan sebelumnya.
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN KOMUNITAS UKS
DI SDN NGADIRGO 01 KECAMATAN MIJEN

A.    Pengkajian
Berdasarkan hasil pengkajian atau observasi yang dilakukan di SDN Karang Roto 03 Kecamatan Genuk terdiri dari 6 kelas,1 ruang kepala sekolah, 1 ruang guru, 1 ruang Mushola, 1 ruang UKS, 1 ruang perpustakaan, 3 kamar mandi, dan 1 gudang serta secara keseluruhan siswa sebanyak 219 siswa yang terdiri dari pria 129 dan wanita 90, sedangkan guru dan staff berjumlah 14 orang dan 1 staf administrasi serta 1 penjaga sekolah. Lokasi sekolah berada dipinggir jalan raya. Bangunan sekolah merupakan bangunan permanen, lantai terbuat dari keramik dan fasilitas cuci tangan untuk siswa disetiap kelas ada. Setiap kelas sudah mempunyai tempat pembuangan sampah sementara, namun belum tertata dengan baik. Sampah biasanya dibakar, jika hujan, dibiarkan saja tertimbun.

1.      Pendidikan Kesehatan
Berdasarkan hasil wawancara dan observasi dengan pihak sekolah SDN  Karang Roto 03 didapat hasil :
a.         Sudah ada mata ajar tentang kesehatan yang diberikan tiap 1 kali dalam seminggu pada siswa kelas 1 sampai 6.
b.        Materi penyuluhan kesehatan yang diberikan oleh guru olah raga kepada siswanya, tetapi menurut guru UKS materi yang diberikan kepada siswa masih kurang.
c.         Selama ini sekolah juga memasukkan mata ajar Penjaskes sebagai muatan lokal yang dimaksudkan sebagai salah satu usaha agar derajat kesehatan siswa-siswanya meningkat.



2.      Pelayanan Kesehatan
Dari hasil wawancara dengan guru UKS mengatakan disekolah terdapat UKS (Usaha Kesehatan Sekolah)
a.       Sekolah sudah ada guru olah raga dan Pembina UKS yang betanggung jawab untuk UKS
b.      Sudah ada ruang khusus untuk kegiatan UKS namun belum berfungsi secara maksimal

3.      Kesehatan Lingkungan
Berdasarkan hasil wawancara dan observasi dengan pihak sekolah SDN Karang Roto 03 didapat hasil :
a.       Beberapa guru SDN Karang Roto 03 mengatakan siswa kebanyakan jajan es, permen, coklat.
b.      Guru sekolah mengatakan siswa sakit dan tidak masuk sekolah karena sakit diantaranya ISPA dan Diare.
c.       Beberapa siswa mengatakan senang jajan es, coklat dan permen.
d.      Kebanyakan siswa yang jajan tidak mencuci tangan saat memegang makanan
e.       Keadaan tempat sampah di lingkungan sekolah terbuka dan berserakan.

Berdasarkan hasil penyebaran kuesioner sebanyak 128 siswa yang disebar secara random sampling yaitu pada kelas 1 sampai dengan kelas 6 diperoleh data sebagai berikut :







1.      Jumlah guru berdasarkan perlu UKS
Diagram 3.1 Distribusi frekuensi guru  berdasarkan pendapat guru tentang perlu difungsikan kembali UKS di SDN Karang Roto 03 Kecamatan Genuk Kota Semarang  pada tangga 03-14 Maret 2009

Perlu UKS
Frekuensi
%
Ya
Tidak
14
0
100
0
Total
14
100

Berdasarkan tabel diatas dapat disimpulkan bahwa guru di SDN Karang Roto 03 berpendapat perlu di fungsilkan kembali program UKS sebesar 100 %

2.      Jumlah guru berdasarkan fungsi UKS
Diagram 3.2  Distribusi frekuensi guru  berdasarkan pengetahuan guru tentang fungsi UKS di SD Karang Roto 03 Kecamatan Genuk Kota Semarang  pada tanggal 03-14 Maret 2009

Fungsi UKS
Frekuensi
%
Ya
Tidak
9
5
64,3
35,7
Total
14
100

Berdasarkan tabel diatas dapat disimpulkan guru di SDN Karang Roto 03 pengetahuan guru tentang fungsi UKS sebesar 64,3 % dan yang tidak mengetahui sebesar 35,7 %





3.      Jumlah guru berdasarkan program UKS
Diagram 3.3  Distribusi frekuensi guru  berdasarkan pengetahuan guru tentang program UKS di SDN Karang Roto 03 Kecamatan Genuk Kota Semarang  pada tanggal 03-14 Maret 2009

Program UKS
Frekuensi
%
Tahu
Tidak tahu
11
3
78,6
21,4
Total
14
                       100

Berdasarkan tabel diatas dapat disimpulkan guru di SDN Karang Roto 03 pengetahuan guru tentang program UKS 78,6 % dan yang tidak mengetahui sebesar 21,4 %

4.      Jumlah guru berdasarkan kegiatan UKS
Diagram 3.4  Distribusi frekuensi guru  berdasarkan pengetahuan guru tentang kegiatan UKS di SDN Karang Roto 03 Kecamatan Genuk Kota Semarang  pada tanggal 03-14 Maret 2009

Kegiatan UKS
Frekuensi
%
Tahu
Tidak tahu
5
9
35,7
64,3
Total
14
100

Berdasarkan tabel diatas dapat disimpulkan guru di SDN Karang Roto 03 pengetahuan guru tentang kegiatan UKS sebesar 35,7 % dan yang tidak mengetahui sebesar 64,3 %





5.      Pengetahuan guru tentang P3K
Diagram 3.5  Distribusi frekuensi guru  berdasarkan pengetahuan guru tentang P3K di SDN Karang Roto 03 Kecamatan Genuk Kota Semarang  pada tanggal 03-14 Maret 2009

Kegiatan UKS
Frekuensi
%
Tahu
Tidak tahu
8
6
57,1
42,9
Total
14
100

Berdasarkan tabel diatas dapat disimpulkan guru di SDN Karang Roto 03 pengetahuan guru tentang P3K sebesar 57,1 % dan yang tidak mengetahui sebesar 42,9 %

6.      Jumlah pengetahuan guru tentang penyakit anak sekolah
Diagram 3.6 Distribusi frekuensi guru  berdasarkan pengetahuan guru tentang penyakit anak sekolah di SDN Karang Roto 03 Kecamatan Genuk Kota Semarang  pada tanggal 03-14 Maret 2009

Pengetahuan  tentang penyakit
Frekuensi
%
Tahu
Tidak tahu
11
3
78,6
21,4
Total
14
100

Berdasarkan tabel diatas dapat disimpulkan guru di SDN Karang Roto 03 pengetahuan guru tentang sakit yang diderita siswa sebesar 78,6 % dan yang tidak mengetahui sebesar 21,4 %





7.      Jumlah guru berdasarkan penyebab penyakit anak sekolah
Diagram 3.7 Distribusi frekuensi guru berdasarkan pengetahuan guru tentang penyebab penyakit anak sekolah di SDN Karang Roto 03 Kecamatan Genuk Kota Semarang  pada tanggal 03-14 Maret 2009

Penyebab Penyakit
Frekuensi
%
Tahu
Tidak tahu
11
3
78,6
21,4
Total
14
100

Berdasarkan tabel diatas dapat disimpulkan guru di SDN Karang Roto 03 pengetahuan guru tentang penyebab penyakit anak sekolah sebesar 78,6 % dan yang tidak mengetahui sebesar 21,4 %

8.      Jumlah guru berdasarkan cara pencegahan penyakit anak sekolah
Diagram 3.8 Distribusi frekuensi guru  berdasarkan pengetahuan guru tentang cara pencegahn penyakit anak sekolah di SDN Karang Roto 03 Kecamatan Genuk Kota Semarang  pada tanggal 03-14 Maret 2009

Cara Pencegahan Penyakit
Frekuensi
%
Tahu
Tidak tahu
10
4
71,4
28,6
Total
14
100

Berdasarkan tabel diatas dapat disimpulkan guru di SDN Karang Roto 03 pengetahuan guru tentang cara pencegahan penyakit anak sekolah sebesar 71,4 % dan yang tidak mengetahui sebesar 28,6 %





9.      Jumlah guru berdasarkan mendeteksi masalah kesehatan
Diagram 3.9 Distribusi frekuensi guru  berdasarkan pengetahuan guru tentang cara mendeteksi masalah kesehatan anak sekolah di SDN Karang Roto 03 Kecamatan Genuk Kota Semarang  pada tanggal 03-14 Maret 2009

Mendeteksi Masalah Kesehatan
Frekuensi
%
Tahu
Tidak tahu
6
8
42,9
57,1
Total
14
100

Berdasarkan tabel diatas dapat disimpulkan guru di SDN Karang Roto 03 pengetahuan guru tentang cara mendeteksi masalah kesehatan anak sekolah sebesar 42,9 % dan yang tidak mengetahui sebesar 57,1 %

10.  Jumlah guru berdasarkan pembinaan kader UKS
Diagram 3.10 Distribusi frekuensi guru berdasarkan pendapat guru tentang pembinaan kader UKS di SDN Karang Roto 03 Kecamatan Genuk Kota Semarang  pada tanggal 03-14 Maret 2008

Pembinaan Kader UKS
Frekuensi
%
Ya
Tidak
4
10
28,6
71,4
Total
14
100

Berdasarkan tabel diatas dapat disimpulkan bahwa guru di SDN Karang Roto 03  berpendapat pembinaan kader UKS besar 28,6 %





11.  Jumlah guru berdasarkan penyegaran kader UKS
Diagram 3.11 Distribusi frekuensi guru berdasarkan pendapat guru tentang penyegaran kader UKS di SDN Karang Roto 03 Kecamatan Genuk Kota Semarang  pada tanggal 03-14 Maret 2009

Penyegaran Kader UKS
Frekuensi
%
Perlu 
Tidak perlu
6
8
42,9
57,1
Total
21
100

Berdasarkan tabel diatas dapat disimpulkan bahwa guru di SDN Karang Roto 03 berpendapat perlu penyegaran kader UKS sebesar 42,9 %

12.  Jumlah anak sekolah  berdasarkan gosok gigi
Diagram 3.12 Distribusi frekuensi anak sekolah berdasarkan kebiasaan menggosok gigi secara rutin di SDN Karang Roto 03 Kecamatan Genuk Kota Semarang  pada tanggal 03-14 Maret 2009

Siswa yang menggosok gigi secara rutin
Frekuensi
%
Ya
Tidak
80
48
62,5
37,5
Total
128
100

Berdasarkan tabel diatas dapat disimpulkan bahwa anak sekolah di SDN Karang Roto 03 melakukan gosok gigi secara rutin sebesar 62,5%







13.  Jumlah anak sekolah  berdasarkan gosok gigi dalam sehari
Diagram 3.13 Distribusi frekuensi anak sekolah berdasarkan kebiasaan anak sekolah menggosok gigi dalam sehari di SDN Karang Roto 03 Kecamatan Genuk Kota Semarang  pada tanggal 03-14 Maret 2009

Gosok Gigi dalam Sehari
Frekuensi
%
1 kali
2 kali
3 kali
45
60
23
35,2
46,9
17,9
Total
128
100

Berdasarkan tabel diatas dapat disimpulkan bahwa anak sekolah di SDN Karang Roto 03 melakukan gosok gigi dalam sehari yaitu 1 kali 35,2  %, 2 kali 46,9 % dan 3 kali  17,9%.

14.  Jumlah anak sekolah  berdasarkan melakukan gosok gigi
Diagram 3.14 Distribusi frekuensi anak sekolah berdasarkan kebiasaan anak sekolah melakukan gosok gigi di SDN Karang Roto 03 Kecamatan Genuk Kota Semarang  pada tanggal 03-14 Maret 2009

Melakukan Gosok Gigi
Frekuensi
%
Saat Mandi
Saat Makan
Sebelum Tidur
61
33
34

47,7
25,8
26,6

Total
128
100

Berdasarkan tabel diatas dapat disimpulkan bahwa anak sekolah di SDN Karang Roto 03 melakukan gosok gigi dalam sehari saat makan 25,8 %, sebelum tidur 26,6 % dan saat mandi 47,7 %.


15.  Jumlah anak sekolah  berdasarkan kebiasaan jajan
Diagram 3.15 Distribusi frekuensi anak sekolah berdasarkan kebiasaan anak suka jajan di SDN Karang Roto 03 Kecamatan Genuk Kota Semarang  pada tanggal 03-!4 Maret 2009

 Suka Jajan
Frekuensi
%
Ya
Tidak
115
13
89,8
10,2
Total
128
100

Berdasarkan tabel diatas dapat disimpulkan bahwa anak sekolah di SDN Karang Roto 03 melakukan kebiasaan jajan sebesar 89,8 % dan yang tidak suka jajan 10,2 %.

16.  Jumlah anak sekolah  berdasarkan gigi berlubang
Diagram 3.16 Distribusi frekuensi anak sekolah berdasarkan gigi berlubang di SDN Karang Roto 03 Kecamatan Genuk Kota Semarang  pada tanggal 03-14 Maret 2009

Gigi Berlubang
Frekuensi
%
Ya
Tidak
70
58
54,7
45,3
Total
128
100

Berdasarkan tabel diatas dapat disimpulkan bahwa anak sekolah dengan gigi berlubang di SDN Karang Roto 03 dengan gigi berlubang sebanyak 45,3% dan yang tidak gigi berlubang sebanyak 45,3%.





17.  Jumlah anak sekolah  berdasarkan sakit gigi
Diagram 3.17 Distribusi frekuensi guru berdasarkan siswa yang mengalami sakit gigi di SDN Karang Roto 03 Kecamatan Genuk Kota Semarang  pada tanggal 03-14 Maret 2009

Keramas Dalam Seminggu
Frekuensi
%
Ya
Tidak
63
65
49,2
50,8
Total
128
100

Berdasarkan tabel diatas dapat disimpulkan bahwa anak sekolah di SDN Karang Roto 03 yang mengalami sakit gigi sebanyak 49,2% dan yang tidak sakit gigi sebanyak 50,8%.

18.  Jumlah anak sekolah berdasarkan batuk-pilek
Diagram 3.18 Distribusi frekuensi anak sekolah berdasarkan data yang didapat para siswa yang mengalami batuk pilek di SDN Karang Roto 03 Kecamatan Genuk Kota Semarang  pada tanggal 03-14 Maret 2009

Batuk Pilek
Frekuensi
%
Ya
Tidak
71
57
55,5
44,5
Total
128
100

Berdasarkan tabel diatas dapat disimpulkan wiswa yang mengalami batuk pilek sebanyak 55,5 % dan yang tidak 44,5%.






19.  Jumlah anak sekolah yang sering mengalami demam 
Diagram 3.19 Distribusi frekuensi berdasarkan anak sekolah yang sering mengalami demam di SDN Karang Roto 03 Kecamatan Genuk Kota Semarang  pada tanggal 03-14 Maret 2009

Demam
Frekuensi
%
Ya
Tidak
83
45
64,8
35,2
Total
128
100

Berdasarkan tabel diatas dapat disimpulkan bahwa anak sekolah yang sering mengalami demam di SDN Karang Roto 03 sebanyak 64,8% dan yang tidak sakit demam sebanyak 35,2 %.

20.  Jumlah anak sekolah  yang sering mengalami diare
Diagram 3.20 Distribusi frekuensi berdasarkan anak sekolah yang sering mengalami diare dalam 1 bulan terakhir di SDN Karang Roto 03 Kecamatan Genuk Kota Semarang  pada tanggal 03-14 Maret 2008

Diare

Frekuensi
%
Ya
Tidak
32
96
25
75
Total
128
100

Berdasarkan tabel diatas dapat disimpulkan bahwa siswa yang mengalami diare sebanyak 25% dan yang tidak mengalami diare sebanyak 75%.





21.  Jumlah anak sekolah  yang mencuci tangan sebelum makan
Diagram 3.21 Distribusi frekuensi anak sekolah berdasarkan mencuci tangan sebelum makan di SDN Karang Roto 03 Kecamatan Genuk Kota Semarang  pada tanggal 03-14 Maret 2009

Mencuci Tangan
Frekuensi
%
Ya
Tidak
114
14
89,1
10,9
Total
128
100

Berdasarkan tabel diatas dapat disimpulkan bahwa siswa yang mencuci tangan sebelum makan di SDN Karang Roto 03 sebanyak 89,1% dan yang tidak sering mencuci tangan sebelum makan sebanyak 10,9 %.

22.  Jumlah anak sekolah  yang rutin memotong kuku
Diagram 3.22 Distribusi frekuensi anak sekolah berdasarkan jumlah anak usia sekolah yang rutin memotong kuku di SDN Karang Roto 03 Kecamatan Genuk Kota Semarang  pada tanggal 03-14 Maret 2009

Memotong Kuku
Frekuensi
%
Ya
Tidak
74
54
57,8
42,2
Total
128
100

Berdasarkan tabel diatas dapat disimpulkan bahwa siswa yang rutin memotong kuku di SDN Karang Roto 03 sebanyak 57,8 dan yang tidak 42,2%.





23.  Jumlah anak sekolah yang kukunya bersih
Diagram 3.23 Distribusi frekuensi anak sekolah yang kukunya bersih di SDN Karang Roto 03 Kecamatan Genuk Kota Semarang  pada tanggal 03-14 Maret 2009

Kuku Bersih
Frekuensi
%
Ya
Tidak
74
54
57,8
42,2
Total
128
100

Berdasarkan tabel diatas dapat disimpulkan bahwa anak sekolah yang kukunya bersih di SDN Karang Roto 03 adalah 57,8 % dan yang tidak bersih sebesar 42,2 %.

24.  Jumlah anak sekolah  berdasarkan pengetahuan akibat kuku panjang/kotor
Diagram 3.24 Distribusi frekuensi anak sekolah berdasarkan pengetahuan akibat kuku panjang/kotor di SDN Karang Roto 03 Kecamatan Genuk Kota Semarang  pada tanggal 03-14 Maret 2009

Akibat Kuku Panjang/Kotor
Frekuensi
%
Ya
Tidak
103
25
80,5
19,5
Total
128
100

Berdasarkan tabel diatas dapat disimpulkan bahwa pengetahuan akibat kuku panjang/kotor pada anak sekolah di SDN Karang Roto 03 adalah 80,5 % dan yang tidak tahu sebesar 19,5 %.





25.  Jumlah anak sekolah  berdasarkan telinga bersih
Diagram 3.25 Distribusi frekuensi anak sekolah berdasarkan telinga bersih di SDN Karang Roto 03 Kecamatan Genuk Kota Semarang  pada tanggal 03-14 Maret 2009

Telinga Bersih
Frekuensi
%
Ya
Tidak
107
21
83,6
16,4
Total
128
100

Berdasarkan tabel diatas dapat disimpulkan anak sekolah di SDN Karang Roto 03 yang telinganya bersih adalah 83,6 % dan yang tidak bersih sebesar 16,4 %.

26.  Jumlah anak sekolah  berdasarkan cara membersihkan telinga
Diagram 3.26 Distribusi frekuensi anak sekolah berdasarkan cara membersihkan telinga di SDN Karang Roto 03 Kecamatan Genuk Kota Semarang  pada tanggal 03-14 Maret 2009

 Cara Membersihkan Telinga
Frekuensi
%
Ya
Tidak
104
24
81,3
18,8
Total
128
100

Berdasarkan tabel diatas dapat disimpulkan anak sekolah di SDN Karang Roto 03 yang tahu cara membersihkan telinga sebesar 81,3 % dan yang tidak tahu cara membersihkan telinga sebesar 18,8 %.





27.  Jumlah anak sekolah  berdasarkan penggunaan alat pembersih telinga
Diagram 3.27 Distribusi frekuensi anak sekolah berdasarkan penggunaan alat pembersih telinga di SDN Karang Roto 03 Kecamatan Genuk Kota Semarang  pada tanggal 03-14 Maret 2009

Alat Pembersih Telinga
Frekuensi
%
Cotton Bud
128
100
Total
128
100

Berdasarkan tabel diatas dapat disimpulkan bahwa penggunaan alat pembersih telinga dengan cotton bud pada anak sekolah di SDN Karang Roto 03 adalah 100 %

28.  Jumlah anak sekolah yang pernah mengalami pengeluaran cairan telinga
Diagram 3.28 Distribusi frekuensi anak sekolah yang pernah mengalami pengeluaran cairan telinga di SDN Karang Roto 03 Kecamatan Genuk Kota Semarang  pada tanggal 03-14 Maret 2009

Cairan Telinga
Frekuensi
%
Ya
Tidak
9
119
7
93
Total
128
100

Berdasarkan tabel diatas dapat disimpulkan bahwa anak sekolah yang pernah mengalami pengeluaran cairan telinga di SDN Karang Roto 03 sebesar 7 %






29.  Jumlah anak sekolah  berdasarkan kebiasaan mandi
Diagram 3.29 Distribusi frekuensi anak sekolah berdasarkan kebiasaan mandi di SDN Karang Roto 03 Kecamatan Genuk Kota Semarang  pada tanggal 03-14 Maret 2009

Mandi
Frekuensi
%
2 kali sehari
128
100
Total
128
100

Berdasarkan tabel diatas dapat disimpulkan bahwa kebiasaan mandi anak sekolah  di SDN Karang Roto 03 adalah 2 kali sehari sebesar 100 % 

30.  Jumlah anak sekolah  berdasarkan kebiasaan keramas dalam 1 minggu
Diagram 3.30 Distribusi frekuensi anak sekolah berdasarkan kebiasaan keramas dalam 1 minggu di SDN Karang Roto 03 Kecamatan Genuk Kota Semarang  pada tanggal 03-14 Maret 2009

Keramas Dalam 1 minggu
Frekuensi
%
Tidak pernah
Satu kali
Dua kali
Tiga kali
7
13
83
25
5,5
10,2
64,8
19,5
Total
128
100

Berdasarkan tabel diatas dapat disimpulkan bahwa siswa di SDN Karang Roto 03 yang tidak pernah keramas sebesar 5,5%, keramas satu kali sebesar 10,2%,  keramas dua kali 64,8% dan yang keramas tiga kali 19,5%



31.  Jumlah anak sekolah  yang pernah mengalami sariawan
Diagram 3.31 Distribusi frekuensi anak sekolah yang pernah mengalami sariawan di SDN Karang Roto 03 Kecamatan Genuk Kota Semarang  pada tanggal 03-14 Maret 2009

Sariawan
Frekuensi
%
Ya
Tidak
88
40
68,8
31,3
Total
128
100

Berdasarkan tabel diatas dapat disimpulkan bahwa anak sekolah yang pernah mengalami sariawan di SDN Karang Roto 03 adalah sebesar 68,8 % dan yang tidak sebesar 31,3 %

32.  Jumlah anak sekolah  yang pernah mengalami kulit gatal
Diagram 3.32 Distribusi frekuensi anak sekolah yang pernah mengalami kulit gatal di SDN Karang Roto 03 Kecamatan Genuk Kota Semarang  pada tanggal 03-14 Maret 2009

Kulit Gatal
Frekuensi
%
Ya
Tidak
30
98
23,4
76,6
Total
128
100

Berdasarkan tabel diatas dapat disimpulkan bahwa anak sekolah yang pernah mengalami kulit gatal di SDN Karang Roto 03 adalah sebesar 23,4 % dan yang tidak pernah sebesar  76,6 %





33.  Jumlah anak sekolah  yang rambutnya mudah rontok
Diagram 3.33 Distribusi frekuensi anak sekolah yang rambutnya mudah rontok di SDN Karang Roto 03 Kecamatan Genuk Kota Semarang  pada tanggal 03-14 Maret 2009

Rambut Rontok
Frekuensi
%
Ya
Tidak
26
102
20,3
79,7
Total
128
100

Berdasarkan tabel diatas dapat disimpulkan bahwa anak sekolah yang rambutnya mudah rontok di SDN Karang Roto 03 adalah sebesar 20,3 % dan yang tidak sebesar  79,7 %

34.  Jumlah anak sekolah  yang pernah jatuh di sekolah
Diagram 3.34 Distribusi frekuensi anak sekolah yang pernah jatuh di sekolah di SDN Karang Roto 03 Kecamatan Genuk Kota Semarang  pada tanggal 03-14 Maret 2009

Jatuh
Frekuensi
%
Ya
Tidak
54
74
42,2
57,8
Total
128
100

Berdasarkan tabel diatas dapat disimpulkan bahwa anak sekolah yang pernah jatuh di sekolah SDN Karang Roto 03 adalah sebesar 42,2 % dan yang tidak sebesar  57,8 %





35.  Jumlah anak sekolah  waktu jatuh
Diagram 3.35 Distribusi frekuensi anak sekolah waktu jatuh di sekolah di SDN Karang Roto 03 Kecamatan Genuk Kota Semarang  pada tanggal 03-14 Maret 2009

Waktu Jatuh
Frekuensi
%
Bermain
Lantai licin
Dikamar mandi
Olah raga
38
3
2
11
70,4
5,6
3,7
20,4
Total
128
100

Berdasarkan tabel diatas dapat disimpulkan bahwa waktu anak sekolah jatuh saat dikamar mandi sebanyak 3,7 %, saat lantai licin sebanyak 5,6 %, saat olah raga sebanyak 20,4 % dan saat bermain sebanyak 70,4 %.


BAB IV
PEMBAHASAN

Asuhan keperawatan yang dilaksanakan oleh mahasiswa kelompok IV Program Profesi Ners Fakultas Ilmu Keperawatan dan Kesehatan Universitas Muhammadiyah Semarang di SDN Karang Roto 03, Kecamatan Genuk Semarang, tanggal 3-14 Maret 2009 menggunakan pendekatan proses keperawatan yang meliputi kegiatan persiapan, pengkajian, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Kegiatan-kegiatan tersebut melibatkan guru dan murid SDN Karang Roto 03 dalam setiap usaha penyelesaian masalah kesehatan masyarakat, melalui pendekatan proses keperawatan.

A.    Persiapan
  1. Persiapan ke Sekolah
Kegiatan ini meliputi upaya untuk mengenal secara tidak langsung karakteristik sekolah dengan cara mencari informasi dari berbagai pihak yang terkait, antara lain Puskesmas Bangetayu dan SDN Karang Roto 03  Kecamatan Genuk Semarang. Setelah itu diadakan pertemuan informal melalui pendekatan para guru dan kepala sekolah, untuk menjelaskan maksud dan tujuan praktik keperawatan Komunitas dan strategi yang akan dilaksanakan.

  1. Persiapan Teknis
Persiapan tersebut dimulai dengan pertemuan pertama dengan kepala sekolah pembina UKS pada tanggal 2 Maret 2009. Tujuan pertemuan ini, adalah perkenalan dengan kepala sekolah dan pembina UKS, mengidentifikasi masalah kesehatan yang ada di area sekolah.  Pada pertemuan tersebut telah disepakati bahwa mahasiswa akan melakukan asuhan keperawatan yang di mulai dengan pengumpulan data (tool), penyebaran, identifikasi dan merencanakan data yang terkait dengan masalah kesehatan dan masalah lingkungan di SDN Karang Roto 03  Kecamatan Genuk Semarang.
Ada 2 faktor yang dijumpai dalam tahap awal ini, yaitu :
1.    Faktor Pendukung
Kepala sekolah dan pembina UKS menerima dengan baik dan para guru membantu sosialisasi mahasiswa kepada seluruh siswa SDN Karang Roto 03 Kecamatan Genuk.
2.    Faktor Penghambat
Sibuknya kepala sekolah sehingga mahasiswa harus mencari hari khusus untuk bertemu kepala sekolah.

B.     Tahap Pengkajian
Kegiatan yang dilakukan dalam tahap pengkajian antara lain pengkajian data dasar, data lingkungan fisik dan pengkajian data murid SDN Karang Roto 03. Kegiatan pengkajian dilakukan dengan membagikan kuesioner, observasi lingkungan, wawancara dengan guru dan pembina UKS,  yang ada di SDN Karang Roto 03 Kecamatan Genuk.
Setelah pengumpulan data tersebut, dilakukan pengelompokan data yang sesuai untuk mendukung analisa data. Pada saat melakukan tahap pengkajian ini terdapat faktor pendukung dan faktor penghambat dalam memperoleh data komunitas area sekolah yang diperlukan.
1.    Faktor Pendukung
a.    Hubungan saling percaya
Hubungan saling percaya dengan masyarakat dapat dijalin sejak pertama kali mahasiswa melakukan kontak langsung saat pengkajian di sekolah.
b.    Penerimaan siswa
Pada awal kegiatan penerimaan siswa SDN Karang Roto 03 merespon dengan baik rencana kegiatan yang akan dilakukan. Hal ini dapat dibuktikan siswa kooperatif saat mahasiswa berinteraksi mengumpulkan data baik berupa wawancara atau observasi.

c.    Peran serta siswa
Setelah dilakukan pendekatan kembali pada siswa melalui kepala sekolah  dan para guru, maka siswa mengerti dan menerima kehadiran mahasiswa dan membantu memberikan informasi yang diperlukan dalam pengumpulan data pada tahap pengkajian.
d.   Sumber daya manusia
Tingkat pendidikan sebagian besar guru SDN Karang Roto 03 kecamatan Genuk adalah Diploma sehingga kuesioner yang dibagikan kepada para guru dapat diisi sesuai yang diharapkan.

2.    Faktor Penghambat
a.    Letak geografi area sekolahan SDN Karang Roto 03 Kecamatan Genuk  sebelah utara adalah Kebun, sebelah selatan Kelurahan Sembungharjo, sebelah Barat Puskesmas pembantu kudu, dan sebelah timur berbatasan dengan SDN Karang Roto 04.
b.    Cuaca
Pengkajian dilakukan pada saat musim hujan.
c.    Waktu dan tenaga
Waktu dan tenaga menjadi kendala karena pada saat pelaksanaan pengkajian tidak dapat dilakukan serempak pada hari yang sama, melainkan bertahap.

C. Diagnosa Keperawatan Komunitas

Diagnosa keperawatan ditetapkan berdasarkan masalah yang ditemukan. Diagnosa keperawatan merupakan respon siswa terhadap masalah kesehatan baik aktual, resiko maupun potensial yang dapat diantisipasi. Diagnosa keperawatan yang muncul yaitu menggambarkan masalah, respon, kondisi dan mengidentifikasi kemungkinan data penyebab (American Nursing Association). Data yang diperoleh kemudian dianalisa dan ditemukan 3 diagnosa keperawatan, antara lain:
1.        Tingginya kerusakan gigi (caries gigi) pada siswa dilingkungan SDN Karang Roto 03 berhubungan dengan ketidaktahuan siswa tentang manfaat perilaku hidup bersih dan sehat khususnya perawatan diri.
Hal ini didukung oleh data yang ada di area sekolah yaitu berdasarkan wawancara dengan kepala sekolah, pembina UKS, dan siswa SDN Karang Roto 03 Kecamatan Genuk bahwa sebagian besar siswa mengalami gigi berlubang.
Masalah kesehatan tersebut dapat dirumuskan dengan beberapa data pendukung yang disajikan dalam bentuk tabel frekuensi sebagai berikut :

Tabel 1.1 Kebiasaan siswa jajan coklat, permen dan es krim di SDN Karang Roto 03 Kecamatan Genuk
Kebiasaan  siswa jajan coklat, permen dan es krim
Frekuensi
%
Ya
115
89,8
Tidak
13
10,2
Total
128
100

Berdasarkan analisa terhadap 128 siswa SDN Karang Roto 03 Kecamatan Genuk diperoleh data bahwa kebiasaan siswa yang suka jajan coklat, permen dan es krim sebanyak 89,8 % siswa dan yang tidak sebanyak 10,2% siswa.

Tabel 1.2  Siswa yang menggosok gigi secara rutin di SDN Karang Roto 03 Kecamatan Genuk
Siswa yang menggosok gigi secara rutin
Frekuensi
%
Ya
Tidak
80
48
62,5
37,5
Total
128
100




Berdasarkan analisa terhadap 128 siswa di SDN Karang Roto 03 Kecamatan Genuk diperoleh data bahwa siswa yang menggosok gigi secara rutin sebanyak 62,5 % dan yang tidak menggosok gigi secara rutin sebanyak 37,5 %.

Tabel 1.3 Kebiasaan siswa menggosok gigi dalam sehari di SDN Karang Roto 03 Kecamatan Genuk
Kebiasaan menggosok gigi dalam sehari
Frekuensi
%
1 kali
2 kali
3 kali
45
60
23
35,2
46,9
18
Total
128
100

Berdasarkan analisa terhadap 128 siswa di SDN Karang Roto 03 Kecamatan Genuk diperoleh data bahwa siswa yang menggosok gigi 1 kali dalam sehari sebanyak 35,2 %, menggosok gigi 2 kali 46,9 % dan menggosok gigi 3 kali 18 %.

Tabel 1.4 Sakit gigi di SDN Karang Roto 03 Kecamatan Genuk
Sakit gigi
Frekuensi
%
Ya
Tidak
63
65
49,2
60,8
Total
128
100

2.        Risiko tinggi terjadi peningkatan angka ISPA di lingkungan SDN Karang Roto 03 berhubungan dengan lingkungan yang tidak sehat dan ketidaktahuan siswa tentang akibat yang dapat ditimbulkan oleh perilaku hidup yang kurang bersih dan sehat.
Hal ini didukung oleh data yang ada di SDN Karang Roto 03 Kecamatan Genuk yaitu berdasarkan wawancara dengan kepala sekolah, Pembina UKS, Guru dan siswa sebagian besar siswa mengalami batuk pilek. Masalah kesehatan tersebut dapat dirumuskan dengan beberapa data pendukung yang disajikan dalam bentuk tabel frekuensi sebagai berikut:

Tabel 2.1 Siswa yang mengalami batuk pilek setiap bulan di SDN Karang Roto 03 Kecamatan Genuk
Batuk pilek                         Frekuensi                                     %
Ya                                              71                                        55,5
Tidak                                         57                                        44,5
Total                                        128                                        100

Berdasarkan analisa terhadap 128 siswa di SDN Karang Roto 03 Kecamatan Genuk diperoleh data bahwa siswa yang mengalami batuk pilek setiap bulan sebanyak 55,5 %.

Tabel 2.2 Siswa suka jajan (es, chiki, gorengan) di SDN Karang Roto 03 Kecamatan Genuk
Siswa suka jajan                             Frekuensi                                        %
Ya                                                          115                                         89,8                                                
Tidak                                                       13                                         10,2
Total                                                      128                                          100

Berdasarkan analisa terhadap 128 siswa di SDN Karang Roto 03 Kecamatan Genuk diperoleh data bahwa 89,8 % siswa suka jajan ( es, chiki, gorengan ).

3.        Risiko terjadinya peningkatan angka diare di lingkungan SDN Karang Roto 03 berhubungan dengan lingkungan yang tidak sehat dan ketidak tahuan siswa tentang akibat yang dapat ditimbulkan oleh perilaku hidup yang kurang bersih dan sehat.
Hal ini didukung oleh data yang ada di SDN Karang Roto 03 Kecamatan Genuk yaitu berdasarkan wawancara dengan kepala sekolah, Pembina UKS, Guru, dan siswa  bahwa setiap bulan banyak anak mengalami diare.
Masalah kesehatan tersebut dapat dirumuskan dengan beberapa data pendukung yang disajikan dalam bentuk tabel frekuensi sebagai berikut:

Tabel 3.1 Diare dalam 1 bulan di SDN Karang Roto 03 Kecamatan Genuk
Diare dalam 1 bulan                              Frekuensi                                            %
Ya                                                                  32                                               25
Tidak                                                              96                                              75
Total                                                             128                                            100

Berdasarkan analisa terhadap 128 siswa di SDN Karang Roto 03 Kecamatan Genuk diperoleh data bahwa siswa yang mengalami diare dalam 1 bulan sebanyak 25 %.

Tabel 3.2 Rutin memotong kuku di SDN Karang Roto 03 Kecamatan Genuk
Rutin memotong kuku
Frekuensi
%
Ya
Tidak
83
45
64,8
35,2
Total
128
100

Berdasarkan analisa terhadap 128 siswa di SDN Karang Roto 03 Kecamatan Genuk bahwa siswa yang tidak rutin memotong kuku sebanyak 35,2 %.

Tabel 3.3 Cuci tangan sebelum makan di SDN Karang Roto 03 Kecamatan Genuk
Cuci tangan sebelum makan
Frekuensi
%
Ya
Tidak
114
14
89,1
10,9
Total
128
100

Berdasarkan analisa terhadap 128 di SDN Karang Roto 03 Kecamatan Genuk diperoleh data bahwa siswa yang tidak mencuci tangan sebelum makan sebanyak 10,9%.

Tabel 3.4 Siswa suka jajan (es, chiki, gorengan) di SDN Karang Roto 03 Kecamatan Genuk
Siswa suka jajan
Frekuensi
%
Ya
115
89,8
Tidak
13
10,2
Total
128
100

Berdasarkan analisa terhadap 128 siswa di SDN Karang Roto 03 Kecamatan Genuk diperoleh data bahwa 89,8 % siswa suka jajan ( es, chiki, gorengan ).

Tabel 3.5 Pengetahuan siswa akibat kuku panjang dan kotor di SDN Karang Roto 03 Kecamatan Genuk
Pengetahuan siswa akibat kuku panjang dan kotor
Frekuensi
%
Ya
103
80,5
Tidak
25
19,5
Total
128
100

Berdasarkan analisa terhadap 128 siswa di SDN Karang Roto 03 Kecamatan Genuk diperoleh data bahwa siswa yang tahu akibat kuku panjang dan kotor sebanyak 80,5 %.

Tabel 3.6 Kuku bersih
Kuku bersih
Frekuensi
%
Ya
74
57,8
Tidak
54
42,2
Total
128
100

Berdasarkan analisa terhadap 128 siswa di SDN Karang Roto 03 Kecamatan Genuk diperoleh data bahwa siswa yang kukunya kotor sebanyak 42,2 %.

Masalah keperawatan komunitas area sekolah tersebut merupakan hasil identifikasi antara mahasiswa dengan kepala sekolah serta Pembina UKS. Ada 2 faktor yang dijumpai dalam tahap awal ini, yaitu:
1.        Faktor pendukung
a.         Data secara nyata dan valid ditemukan dari hasil pengkajian komunitas area sekolah , hasil windshield survey, hasil focus group discussion dan indep interview di SDN Karang Roto 03 Kecamatan Genuk.
b.         Dukungan kepala sekolah, Pembina UKS dan guru
Kepala sekolah, Pembina UKS dan guru sekolah telah menyadari dan merasakan adanya masalah kesehatan yang ada di SDN Karang Roto 03 Kecamatan Genuk, sehingga pihak dari sekolah mengharapkan untuk dilakukan pendidikan kesehatan tentang masalah kesehatan yang ada.

2.        Faktor penghambat
Beberapa faktor penghambat yang mempengaruhi saat merumuskan masalah kesehatan komunitas diarea sekolah adalah penyesuaian jadwal penyuluhan kesehatan dengan jadwal pelajaran.

D. Tahap  Perencanaan

Pada tahap perencanaan ini meliputi kegiatan memprioritaskan masalah kesehatan yang muncul, merumuskan tujuan jangka panjang dan pendek, menetapkan rencana tindakan serta merumuskan rencana evaluasi. Masalah keperawatan komunitas area sekolah yang telah teridentifikasi kemudian diprioritaskan sebagai berikut :
1.        Tingginya kerusakan gigi (caries gigi) pada siswa dilingkungan SDN Karang Roto 03 berhubungan dengan ketidaktahuan siswa tentang manfaat perilaku hidup bersih dan sehat khususnya perawatan diri.
2.        Risiko tinggi terjadi peningkatan angka ISPA di lingkungan SDN Karang Roto 03 berhubungan dengan lingkungan yang tidak sehat dan ketidaktahuan siswa tentang akibat yang dapat ditimbulkan oleh perilaku hidup yang kurang bersih dan sehat.
3.        Risiko terjadinya peningkatan angka diare di lingkungan SDN Karang Roto 03 berhubungan dengan lingkungan yang tidak sehat dan ketidak tahuan siswa tentang akibat yang dapat ditimbulkan oleh perilaku hidup yang kurang bersih dan sehat.
Dalam membuat perencanaan kegiatan keperawatan komunitas area sekolah melibatkan peran serta kepala sekolah dan Pembina UKS. Hal ini dilakukan dalam upaya pemberdayaan siswa untuk memecahkan masalah kesehatan yang ada di area sekolah. Perencanaan asuhan keperawatan komunitas area sekolah ini telah disesuaikan dengan sumber daya yang ada di SDN Karang Roto 03 Kecamatan Genuk.
Perumusan tujuan disesuaikan dengan masalah yang akan ditindak lanjuti dengan rumusan tujuan jangka panjang yang berorientasi pada perubahan perilaku baik secara kognitif, afektif dan psikomotor, serta rumusan tujuan jangka pendek yang merupakan tujuan antara dalam rangka mencapai tujuan jangka panjang atau hasil akhir yang diharapkan pada setiap kegiatan tertentu. Rencana kegiatan yang dirumuskan dalam mengatasi masalah kesehatan di sekolah dengan melibatkan kepala sekolah dan Pembina UKS.
Rencana evaluasi telah dideskripsikan dalam pernyataan kriteria evaluasi yang merupakan tolak ukur dari kegiatan dan standar yang harus dicapai dari kegiatan tersebut.
1.        Faktor Pendukung  
Faktor pendukung dalam perencanaan adalah adanya UKS, adanya peralatan dan faktor penunjang UKS.
2.        Faktor Penghambat
Masih ada beberapa kader kesehatan sekolah yang belum aktif, ruang UKS masih menjadi satu dengan ruang lainya.

E.  Tahap Implementasi

Implementasi merupakan tahap realisasi dari rencana asuhan keperawatan komunitas area sekolah yang telah disusun. Implementasi diberikan secara langsung (Penyuluhan kesehatan dan demonstrasi) maupun tidak langsung (pemberian leaflet yang berkaitan dengan masalah kesehatan yang ada) kepada siswa SDN Karang Roto 03 sesuai dengan kebutuhan sekolah.

1.    Tingginya kerusakan gigi (caries gigi) pada siswa dilingkungan SDN Karang Roto 03 berhubungan dengan ketidaktahuan siswa tentang manfaat perilaku hidup bersih dan sehat khususnya perawatan diri.
a.         Pendidikan kesehatan
Pendidikan kesehatan tentang caries gigi dan pencegahannya yang meliputi perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), melakukan penyebaran leaflet tentang kesehatan gigi dan mulut (caries gigi) (PHBS) Dilakukan mulai tanggal 17 & 19 Maret 2009.
Pelaksanaan pendidikan kesehatan tentang caries gigi dan pencegahannya kepada siswa dapat dilakukan dengan beberapa faktor yang mendukung, antara lain :
1)         Siswa dapat mengetahui pengertian caries gigi sebanyak 75%
2)         Siswa dapat menyebutkan tanda dan gejala caries gigi sebayak 87%
3)         Siswa dapat menyebutkan penyebab caries gigi sebanyak 83%
4)         Siswa  dapat menyebutkan cara pencegahan caries gigi sebanyak 91%
5)         Siswa dapat mendemonstrasikan cara menggosok gigi dengan benar sebanyak 95%

b.         Pelaksanaan kegiatan gosok gigi bersama
Kegiatan gosok gigi bersama dilaksanakan pada tanggal 20 maret 2009 yang dilakukan siswa SDN Karang Roto 03 dihalaman sekolah.
Adapun beberapa faktor yang mendukung pelaksanaan kegiatan kerja bakti gosok gigi bersama tersebut antara lain :
1)        100% warga hadir untuk mengikuti acara gosok gigi bersama di halaman sekolah.
2)         Dukungan positif dari sekolah untuk pelaksanaan kegiatan gosok gigi bersama.

Sedangkan faktor yang menghambat pelaksanaan kegiatan goso gigi bersama antara lain: waktu mulai gosok gigi bersama tidak tepat waktu.

2.    Risiko tinggi terjadi peningkatan angka ISPA di lingkungan SDN Karang Roto 03 berhubungan dengan lingkungan yang tidak sehat dan ketidaktahuan siswa tentang akibat yang dapat ditimbulkan oleh perilaku hidup yang kurang bersih dan sehat.
a.     Pendidikan kesehatan tentang ISPA dilaksanakan mulai pada tanggal 19 Maret sampai 2009
Adapun beberapa faktor yang mendukung pelaksanaan pendidikan kesehatan adalah:
1)        Siswa dapat mengetahui pengertian ISPA sebanyak 75%
2)        Siswa dapat menyebutkan tanda dan gejala ISPA sebanyak 87%  
3)        Siswa dapat menyebutkan penyebab ISPA sebanyak 83%
4)        Siswa dapat menyebutkan cara pencegahan ISPA sebanyak 91%

3.    Risiko terjadinya peningkatan angka diare di lingkungan SDN Karang Roto 03 berhubungan dengan lingkungan yang tidak sehat dan ketidak tahuan siswa tentang akibat yang dapat ditimbulkan oleh perilaku hidup yang kurang bersih dan sehat.
a.     Pelaksanaan pendidikan kesehatan tentang diare pada tanggal 19 maret   2009.
Adapun beberapa faktor yang mendukung pelaksanaan pendidikan kesehatan adalah:
1)   Siswa dapat mengetahui pengertian diare sebanyak 75%
2)        Siswa dapat menyebutkan tanda dan gejala diare sebanyak 87%  
3)        Siswa dapat menyebutkan penyebab diare sebanyak 83%
4)        Siswa dapat menyebutkan cara pencegahan diare sebanyak 91%
5)        Siswa dapat mendemontrasikan cara cuci tangan yang benar sebanyak 70%
b.    Pelaksanaan kegiatan cuci tangan bersama
Kegiatan cuci tangan bersama dilaksanakan pada tanggal 19 maret 2009 yang dilakukan siswa SDN Karang Roto 03 dihalaman sekolah.
Adapun beberapa faktor yang mendukung pelaksanaan kegiatan kerja bakti gosok gigi bersama tersebut antara lain :
1)        100% warga hadir untuk mengikuti acara cuci tangan bersama di halaman sekolah.
2)         Dukungan positif dari sekolah untuk pelaksanaan kegiatan cuci tangan bersama.

F.  Tahap Evaluasi

Evaluasi merupakan tahap akhir proses keperawatan yang digunakan untuk menilai tingkat keberhasilan dari pemecahan masalah keperawatan komunitas di area sekolah. Dari evaluasi yang dilaksanakan dapat diketahui masalah kesehatan komunitas di area sekolah bisa terpecahkan seluruh, sebagian, atau tidak terpecahkan tetapi menimbulkan masalah baru. Kegiatan evaluasi adalah mengukur keberhasilan dengan mengumpulkan data dan menganalisanya. Kegiatan ini dilakukan bersama siswa dan pembina UKS. Evaluasi ini dijadikan dasar untuk menyusun rencana tindakan selanjutnya. Pasa pelaksanaan kegiatan komunitas di area sekolah, evaluasi dilakukan sesuai teori dengan menggunakan konsep evaluasi struktur, evaluasi proses, dan evaluasi hasil kerja. Tindakan keperawatan yang telah dilakukan sebagian besar telah dilakukan dengan baik oleh mahasiswa bekerja sama dengan Pembina UKS. Selain itu ada kegiatan yang perlu ditindaklanjuti dan dibicarakan bersama – sama antara mahasiswa, kepala sekolah dan Pembina UKS.

1.    Evaluasi struktur
Evaluasi struktur berupa evaluasi terhadap persiapan – persiapan yang diperlukan selama pelaksanaan kegiatan meliputi pre planning, kontrak waktu dan media. Dari 5 kegiatan yang telah dilaksanakan, secara struktur sebelum kegiatan telah mempersiapkan pre planning, kontrak waktu dengan wali kelas, murid dan media yang akan digunakan.
Dengan adanya evaluasi terhadap struktur kegiatan akan memberi arah pada kemantapan persiapan yang harus dilakukan sehingga perencanaan kegiatan akan lebih matang, dapat memilih waktu yang tepat serta media yang digunakan sesuai dengan jumlah dan karakteristik sasaran.

2.    Evaluasi proses
Pentingnya melaksanakan evaluasi proses kerja untuk mengetahui suatu kegiatan yang dilakukan dari beberapa besar partisipasi audiens atau sasaran dalam mengikuti suatu kegiatan, hal ini sangat erat hubungannya dengan topik yang tertuang, kebutuhan masyarakat serta media yang digunakan.
Pada setiap kegiatan yang telah dilaksanakan sebagian besar telah ditentukan topiknya dengan mempertimbangkan kebutuhan sekolah, saat pengkajian  yang dilaksanakan secara sistematis berdasarkan prioritas masalah yang ditemukan, sedangkan penggunaan media telah disesuaikan dengan jumlah audiens dan tingkat pendidikan serta usia rata-rata audiens/ sasaran.
Akan tetapi  evaluasi proses yang dilaksanakan menonjolkan kuantitasnya saja, karena batasan evalausi lebih condong pada ada tidaknya kriteria yang ditentukan saat sebelum pelaksaanaan kegiatan, namun evaluasi ini akan lebih sempurna apabila diukur juga secara kualitasnya dengan cara mengobservasi lebih lanjut terhadap setiap item yang terdapat pada evaluasi proses.

3.    Evaluasi hasil
Dari hasil evalausi melalui prngamatan langsung yang dilakukan pada tahap akhir setiap kegiatan dapat dinyatakan bahwa hampir rata-rata mencapai 80 % telah terjadi peningkatan pengetahuan. Pada siswa sebagai sasaran utama kegiatan.

     Pada setiap item kegiatan yang telah dilaksanakan masih ada sebagian yang belum dapat mencapai hasil yang maksimal, hal ini karena adanya beberapa faktor penghambat sebagaimana yang dijelaskan pada evaluasi hasil kegiatan, sehingga dalam kegiatan ini masih memerlukan adanya tindak lanjut agar tidak mengalami kemunduran atau kembalinya pada keadaan semula, sebelum dilakukan tindakan.
Salah satu tingkat perubahan paling akhir dalam suatu kegiatan dapat diukur dari adanya rencana tindak lanjut dalam kegiatan tersebut. Perubahan pada tahap ketiga akan dicapainya suaatu tingkat atau tahapan baru dimana akan terdapat suatu keseimbangan baru atau tidak mengalami kemunduran atau kembali seperti semula, oleh karena itu harus adanya upaya umpan balik, kritik yang konstruktif dan upaya pembinaan yang terus menerus.
Rencana tindak lanjut yang disepakati mencakup rencana tindak lanjut untuk pihak Puskesmas Bangetayu Wetan, rencana tindak lanjut untuk sekolah. Rencana tindak lanjut untuk puskesmas bangetayu wetan meliputi: pemberian penyuluhan kesehatan, pemeriksaan gigi sebulan sekali dan pelatihan kader kecil.  Rencana tindak lanjut untuk sekolah meliputi : UKS tetap berjalan aktif dan lebih mengaktifkan UKS dalam kurikulum.
Sedangkan untuk mengetahui perkembangan dari hasil tindak lanjut yang telah disusun masih memerlukan waktu yang cukup lama untuk evaluasi, sehingga perlu untuk didelegasikan pada pihak-pihak yang terkait seperti Puskesmas, kepala sekolah, Pembina UKS dan siswa sendiri untuk mengevaluasinya.

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

A.    Kesimpulan

Pembangunan kesehatan di bidang kesehatan pada hakekatnya menitikberatkan pada peran serta masyarakat secara aktif untuk memandirikan masyarakat. Kemandirian dan keterlibatan aktif dari masyarakat, diharapkan mampu memecahkan dan menangani masalah kesehatan baik kesehatan individu, keluarga dan masyarakat. Dasar dari keterlibatan masyarakat ini dengan alasan bahwa kesehatan bukan hanya merupakan tanggung jawab petugas kesehatan saja, melainkan masyarakat juga memiliki hak dan potensi untuk mengenal dan mengatasi masalah kesehatan.
Praktek asuhan keperawatan UKS yang dilakukan oleh mahasiswa profesi Ners FIKKES Unimus di SDN Karang Roto 03 Kecamatan Genuk menggunakan pendekatan terhadap guru, siswa serta penjaga sekolah tersebut.
Dalam pelaksanaan asuhan keperawatan UKS, mahasiswa menggunakan ilmu keperawatan dengan didukung oleh ilmu lainnya. Selain itu, mahasiswa menggunakan sumber daya manusia dan fasilitas yang ada di sekolah untuk mendukung kelancaran kegiatan. Hal ini merupakan suatu upaya untuk memandirikan sekolah dalam pencegahan dan peningkatan kesehatan.
Upaya melibatkan guru dan siswa dilakukan dengan membina kerjasama dengan Dinas Pendidikan kecamatan Genuk, melakukan identifikasi masalah UKS secara umum yang dilakukan dengan windshield survey dan kuesioner pada siswa dan guru menetapkan masalah dan menentukan prioritas masalah,antara lain :
1.      Tingginya kerusakan gigi (caries gigi) pada siswa dilingkungan SDN Karang Roto 03 berhubungan dengan ketidaktahuan siswa tentang manfaat perilaku hidup bersih dan sehat khususnya perawatan diri.
2.      Risiko tinggi terjadi peningkatan angka ISPA di lingkungan SDN Karang Roto 03 berhubungan dengan lingkungan yang tidak sehat dan ketidaktahuan siswa tentang akibat yang dapat ditimbulkan oleh perilaku hidup yang kurang bersih dan sehat.
3.      Risiko terjadinya peningkatan angka diare di lingkungan SDN Karang Roto 03 berhubungan dengan lingkungan yang tidak sehat dan ketidak tahuan siswa tentang akibat yang dapat ditimbulkan oleh perilaku hidup yang kurang bersih dan sehat.

B.     Saran

Setelah semua kegiatan dilakukan bersama dengan guru dan siswa, sebaiknya guru mempunyai rencana tindak lanjut yang akan dilakukan oleh sekolah terhadap kegiatan yang telah dilakukan oleh mahasiswa selama praktek. Hal tersebut dilakukan dengan tujuan  agar kegiatan yang telah dilaksanakan oleh mahasiswa dapat berkelanjutan dan berkesinambungan. Rencana tindak lanjut meliputi dua topik yaitu kesehatan lingkungan dan pelaksanaan UKS yang optimal. Pada kegiatan kesehatan lingkungan direncanakan akan dilakukan kerja bakti bersama guru dan siswa sebulan sekali dan penyampaian informasi tentang masalah kesehatan pada siswa dalam setiap mata ajar olah raga dan kesehatan.








.